China Gebrak Pasar Otomotif Indonesia

Pasar otomotif Indonesia sedang berevolusi. Kedatangan pabrikan otomotif China di Tanah Air dua tahun yang lalu jadi pemicunya. Negara itu ada lewat brand Wuling Motors serta DFSK. Perlahan-lahan tetapi tentu, dua pabrikan roda empat itu menunjukkan kejayaan.

Mobil asal China sebetulnya bukan barang baru. Sebelum dua brand itu, beberapa telah ada lebih dulu. Salah satunya brand Chery, Geely, FAW serta Foton. Mereka ada di fragmen mobil komersial. Sayangnya kelihatan tidak serius saat itu.

Seakan meniadakan waktu suram pabrikan otomotif China di Indonesia, Wuling pada Juli 2017 mengawali dobrakan. Selanjutnya diikuti PT Sokon Automobile (DFSK) pada November di tahun sama. Semenjak itu, pemandangan industri otomotif beralih walaupun tidak mencolok.

Industri mobil China tidak dicap tidak serius. Wuling serta telah resmikan pabrik di Cikarang, sedang DFSK di Cikande. Gebrakan ke-2 pabrikan ini di pasar otomotif nasional dengan tawarkan kendaraan penumpang di fragmen MPV serta SUV.

Tidak asal-asalan, Wuling serta DFSK sampai mendatangkan feature berlimpah di fragmennya pada harga jualnya dapat dijangkau. Serta tambah murah dari brand Jepang yang lebih mapan di industri otomotif Indonesia.

Dobrakan pertama hadir dari Wuling waktu mengeluarkan mode pertamanya, yaitu Confero pada dua tahun kemarin. Jadi mobil keluarga (MPV) bermesin 1.5L tujuh penumpang, Wuling Confero Series dibandrol dari mulai Rp150 juta-an waktu itu. Pasar fragmen low MPV juga terguncang. Faktanya di type sama, pabrikan Jepang jual rata-rata di atas Rp170 juta sampai Rp200 juta.

Guncangan kecil bersambung jadi ledakan saat Wuling Cortez yang bermain di fragmen medium MPV dibandrol Rp200 juta-an. Di fragmen ini pemain dominannya ialah Toyota Kijang Innova. Paling baru, Wuling mengeluarkan Almaz untuk kelas SUV. Feature didatangkan melimpah serta dibandrol Rp318 juta-an.

Pameran otomotif GIIAS Juli 2019, jadi tempat Wuling unjuk gigi. Mereka kembali mengagetkan pasar dengan mengeluarkan variasi baru Almaz memiliki tujuh penumpang dengan feature menarik: voice command berbahasa Indonesia yang bernama Wind.

Feature ini langsung mengundang perhatian golongan otomotif nasional serta jadi feature 'beyond', sebab berikut feature voice command bahasa Indonesia pertama di pasar otomotif nasional. Karena feature inovatif itu, Wuling Almaz merampas gelar "Mobil Paling baik 2019" versus Komunitas Wartawan Otomotif Indonesia (Forwot), yang diberi pada medio Oktober ini.

Taktik Wuling dapat dibuktikan cukup sukses bila lihat trend penjualannya yang terus bertambah. Periode Januari-Agustus tahun ini, penjualan ritel Wuling tumbuh 22,5 % jadi 12.864 unit dibanding periode sama tahun kemarin. Market share bertambah jadi 1,9 % dari 1,4 %.

Kombinasi Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat Wuling sudah masuk dalam barisan 10 besar brand otomotif di Indonesia. Brand ini duduk di rangking ke-9 cuma dalam tempo dua tahun. Pabrikan dengan moto "Drive for a Better Life" ini sukses menggeser Nissan serta Datsun di barisan berprestise itu.

Taktik mirip-mirip diaplikasikan DFSK. Jadi 'saudara' satu negara dengan Wuling, DFSK mengeluarkan Glory 580 di fragmen medium SUV. Sayangnya tanggapan customer malah tidak sebagus Wuling Almaz.

Taktik juga dirubah. DFSK bermain lebih ke bawah, yaitu fragmen low SUV. Kesempatan ini melalui Glory 560 yang dikeluarkan pada April tahun ini. SUV solid ini dibandrol pada harga di rata-rata Rp189 juta-Rp239 juta.

Seri DFSK Glory 560 tawarkan mesin 1.5L turbo. Bermacam feature kekinian diberi serta lebih elegan serta harga dibawah mobil sejuta umat, Toyota Avanza. Pabrikan Otomotif Jepang itu sekarang dibandrol seharga Rp191 juta untuk variasi terendah.

Menurut Gaikindo, volume penjualan DFSK di Januari-Agustus tahun ini tertera 1.717 unit, naik lebih dari 300 % dari periode sama tahun kemarin. Pangsa pasarnya naik jadi 0,3 % serta ada di rangking 13 pasar otomotif Indonesia.

Taktik pabrikan China jual produknya tambah murah dibanding pabrikan Jepang mulai memperlihatkan hasil. Membuat keadaan otomotif kelihatan sedang perang harga.

Ketua Umum Gaikindo Yohannes Nangoi, tidak menolak kondisi itu. Dalam pandangannya, berlangsung perang harga di antara pabrikan China serta Jepang khususnya di fragmen low/small MPV. Walau demikian, kompetisi paling murah jadi wajar di industri otomotif nasional.

"Diskon-diskon atau potongan harga waktu beli mobil baru sebenarnya ialah perang harga. Serta praktik itu telah lama dikerjakan di sini," tutur Yohannes menjawab Merdeka.com, waktu lalu.

Gaikindo tidak mengendalikan taktik harga jual tiap pabrikan otomotif sebagai anggota Asosiasi. Mereka pun tidak bisa menyentuh harga jual. "Kami bersih dari permasalahan penetapan harga jual agar Komisi Pengawas Kompetisi Usaha (KPPU) memandang Gaikindo anak baik," papar ia.

Semenjak pabrikan China ada, baru pertama kali berlangsung di Indonesia harga mobil baru tidak naik di fragmen low MPV. Persisnya saat New Toyota Avanza serta Grand New Daihatsu Xenia dikeluarkan pada Januari 2019.



Fragmen low MPV adalah pasar gemuk di Indonesia dengan andil seputar 30 % dari keseluruhan pasar nasional. Rata-rata penjualannya seputar 300 ribu unit per tahun.

Taktik harga jual masih New Avanza-Xenia itu diikuti juga PT Honda Prospect Motor, waktu mengeluarkan New Honda Mobilio di akhir Februari kemarin. Selanjutnya diikuti All New Nissan Livina yang dikeluarkan pada membuka sama. Harga jualnya cuma beda Rp1 juta-an dibanding variasi Mitsubishi Xpander Ultimate jadi type paling tinggi.

Direktur Marketing PT Toyota-Astra Motor, Anton Jimmy, memiliki pendapat pabrikan China ambil taktik harga jual serta feature, sebab susah memburu di segi lain, seperti service purnajual serta jaringan diler. Taktik ini diambil untuk mendobrak pasar buat mendapatkan volume serta representasi kendaraan di jalanan Indonesia.

"Jika berkompetisi di service purnajual, pabrikan China kesusahan memburu sebab membuat jaringan diler tidak gampang di Indonesia. Karenanya, mereka berkompetisi di pasar dari bagian harga serta feature," katanya.

Tetapi apakah benar demikian? Kenyataannya, Wuling sekarang telah mempunyai 100 diler di semua Indonesia dari sasaran 120 diler sampai akhir tahun ini. Jumlahnya ini semakin dekati diler Nissan Datsun Indonesia yang mempunyai 110 outlet.

Analisis Yuswohadi lihat, fragmen low MPV adalah fragmen pasar mobil yang terbesar di Indonesia. Tidak bingung pemain di fragmen ini semakin banyak dengan kedatangan brand otomotif asal Negeri Gorden Bambu. Rumus marketingnya, setiap saat pabrikan tidak memberi pengembangan, kecenderungannya ialah memberi feature makin banyak, tetapi harga jual masih atau turun.

"Yang berlangsung cenderung perang harga (price war). Jika tidak pengembangan, karena itu main pada harga jual. Prinsipnya, more (items) for less (price)," tutur pegiat dunia pemasaran pada merdeka.com.

Keadaan berlangsung saat ini lebih pas value war (perang kualitas) dibandingkan bukan price war (perang harga). Karena yang berlangsung sebetulnya ialah perang di feature dengan keuntungan harga jual masih atau condong turun.

Dari bagian pabrikan, mereka berani lakukan itu sebab fragmen low MPV volumenya besar, hingga pabrikan membidik volume daripada margin. Fragmen MPV berperan 30-35 % pada pasar mobil nasional atau rata-rata 300-350 ribu unit per tahun. "Pabrikan memandangnya ini, sebab marginnya didesak, karena itu harapannya main di volume (besar), sebab pasar MPV besar," Yuswohadi menjelaskan.

Post a Comment

0 Comments